Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan kecil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 September 2017

About Marriage (Part 1) - NIAT

Wanita di umur mendekati seperempat abad atau selebihnya, pasti banyak mendapat pertanyaan ini, "kapan nikah?" Pun melihat teman2 yg sdh melangkah ke jenjang spt ini, hati pasti mempunyai keinginan yang sama.
Tapi sayangnya, kebanyakan wanita terlalu fokus kepada "kapan aku nikah?", padahal ada hal yg lebih penting daripada itu.
.
Beberapa waktu yang lalu aku baru saja membaca sebuah buku. Yang mengantarkan kepadaku untuk lebih berpikir dan introspeksi diri.
Dalam buku tersebut ada hal yg lebih harusnya digalaukan, lebih di prioritaskan daripada bertanya "kapan nikah" sekarang diubah menjadi "niatnya apa?"
Yah semua orang pasti menjawab ibadah. Syukur kalau niat utamanya seperti itu. Tapi bagaimana dengan niat seperti di bawah ini?
.
A. "Ingin kabur dr rumah. Tidak betah dengan orangtua, tidak betah di rumah, menganggap menikah adalah solusi untuk hidup bahagia. Namun ternyata pernikahan tak seindah yang dibayangkan. Bagaimana mau membangun rumah baru, jika niat ingin kabur dr rumah?"
.
B. "Sekadar bosan hidup sendiri. Banyak yang setelah menikah justru merasa kesepian dalam pernikahannya karena mereka yang "bosan hidup sendiri" cenderung MENUNTUT pasangannya untuk membahagiakannya. Ketika tuntutannya tidak dipenuhi, mulailah ia merasa SALAH PILIH PASANGAN."
.
C. "Terhasut euforia menikah. Sahabat-sahabat sekitar seringkali memanas-manasi tentang nikah muda, ternyata diri malah terhasut ingin juga. Berhati-hatilah, kasus cerai muda, cerai di usia pernikahan masih sangat muda ini sudah sangat banyak."
.
Tapi bukan berarti ada jaminan pasti ketika kita sudah pure niat untuk ibadah, tidak akan ada ujian dalam dunia pernikahan. ADA, dan itu PASTI.
Ingat, ini dunia, bukan surga. Dan dunia tercipta memang untuk menjadi ujian bagi manusia. Hanya saja mindset-nya ketika bertemu dan menyelesaikan konflik yg terjadi itu akan berbeda dalam menyikapinya.


(Tulisan ini dibuat setelah membaca buku karya fufuelmart & canun kamil dg bab berjudul "fondasi pernikahan".)

Sabtu, 16 September 2017

Perlakukan Dia Seperti...



Perlakukan dirinya sebagaimana kita ingin diperlakukan? Benarkah selalu demikian?


👦
"Otak pria yg bersifat problem solving, ketika bermasalah, ia tak ingin membagikan masalahnya dengan curhat kpd org terdekatnya. Sebab baginya hal itu menjatuhkan harga dirinya sbg makhluk problem solver. Ia pun tak ingin curhat krn takut membebani org terdekatnya. Maka ketika bermasalah, ia ingin menyendiri dan menyelesaikan masalahnya seorang diri. That's the man's pride!"

👧
"Otak wanita bersifat society, wanita tercipta dengan empati yg sgt tinggi. Maka ketika bermasalah, ia sgt butuh teman berbagi, untuk membagikan masalah dlm kepalanya kpd org2 terdekatnya. Wanita hanya curhat kpd org2 yg sgt ia sayangi dan yg nyaman dengannya. Baginya empati dari org2 tercinta justru menguatkan dirinya bahwa she's not lonely..."

Nah apa yg akan tjd jk slogan perlakukan dirinya sbgmn engkau ingin diperlakukan diterapkan?

Cth dlm kehidupan sehari2 antara ibu n bpk
Ketika ibu sdg marah2 n badmood, maka bpk seringkali "meninggalkannya". Maksudny sih baik, krn dlm benak pria, waktu sendiri adl wkt utk "menenangkan diri" dan "mengira" itu adl kebutuhannya. Namun apakah ini cocok dg natural wanita? Maksud baik bapak memberikan wkt sendiri diterjemahkan ibu sbg "pengabaian". Dicueki. Dianggap tidak peka.

Ketika bapak lelah, tertekan sdg ada masalah, ibu "menghujaninya"nya dg berbagai pertanyaan, meminta utk bercerita, kenapa, ada apa dsbgnya. Maksud ibu sih baik, krn dlm benak wanita, pertanyaan spt itu adl bukti "Care" dan "sayang" kpd bapak dan ingin menjadi "teman berbagi". Namun apakah cocok dg natural pria yg bersifat problem solver? Maksud baik ibu diterjemahkan bapak sbg "ketidakpercayaan" ibu kpd bapak. Dianggap tidak peka.

Maka yg paling tepat adalah "perlakukanlah dirinya selayaknya ia ingin diperlakukan."

Jadi yg dibutuhkan wanita adalah telinga dan waktu utk didengarkan berbagai keluhan dan ceritanya.

Dan yg dibutuhkan bagi pria, adl waktu utk menyendiri. Kita g usah kepo. Biarkanlah ia yg akan bercerita sendiri.

(Tulisan ini hasil menulis kembali dg bahasa lbh berantakan drpd tulisan aslinya. Sumber asli tulisan karya Canun Kamil berjudul "Perlakukanlah dirinya..." dan fufuelmart "siapa yg enggak peka?" )

Minggu, 27 Agustus 2017

Book of Marriage

Melihat hubungan bapak dan ibu,
Dari perkataanmu bahwa kebanyakan wanita lebih mempersiapkan/fokus married-nya, bukan pada marriage-nya,
Dari perkataan Teh fufuelmart yang hampir sama, bahwa kebanyakan orang lebih mempersiapkan married-nya yang hanya 1 hari bisa menghabiskan berpuluh juta tapi tidak mempersiapkan ilmu untuk pernikahannya, dan ilmu pernikahan itu tidak ada sekolahnya, sedang pernikahan juga tidak seperti dongeng Cinderella yang setelah menikah "happy ever after"(?) (Kurang lebihnya beliau berkata seperti itu)
Serta dari perkataan Bang Tere, nikah itu bukan lomba cepat-cepatan tapi lomba lama-lamaan dan awet-awetan.

Maka ketika Teh Fufu merilis buku baru-nya dengan PO, pertama kali ini aku nekat ikut masa PO-nya bahkan disaat belum punya budget beli buku sama sekali. Sama sekali tidak ada uangnya. Pikirku waktu itu adalah aku berniat dan berkata pada Tuhan, Ya Allah izinkan aku bisa membayar buku ini, dan memiliki buku ini, karena sejauh yang aku tahu buku ini memiliki ilmu yang bermanfaat yang bisa aku gunakan di masa depan. Tolong aku ya Allah. Yakin bahwa Allah akan menolong. Hehehehe
Dua minggu setelah itu... tiba-lah disaat masa pembayaran PO. Dan aku masih tidak mempunyai budget khusus untuk beli buku dan terbentur dengan pengeluaran lain yang lebih mendesak. Budget super duper limited edition. Tapi keyakinanku pada Allah bahwa Allah akan menolong masih tinggi. Dan... alhamdulillah 2 hari kemudian beneran di tolong sama Allah. :)

Wahai jodohku, yang saat ini aku belum ketahui siapa orangnya,
Maukah kamu bersamaku untuk belajar bersama dengan ilmu lebih banyak? Aku tahu aku belum menjadi seorang yg baik, tapi aku ingin pantas bersanding denganmu.
Wahai jodohku, entah siapapun kamu, izinkan aku untuk lebih mengerti dirimu dan bantu aku untuk memahamimu dengan belajar bersamamu.
Aku ingin menjadi lebih baik dan lebih bisa mengerti dan memahamimu, tapi ketika suatu saat kau menemukanku bertindak salah, tegur aku, beritahu padaku arah jalan yang tepat. Karena aku masih perlu banyak belajar. Terimakasih :)

Curhatan diatas ditulis bukan karena aku ingin cepat menikah. Bukan. Tapi aku ingin bercerita tentang kenekatanku dan niatku ingin menuntut ilmu.
Saran untuk diriku sendiri dari aku sendiri : ojo nekat lagi hahahaha
Juga, tetap jaga keyakinan sama Allah akan selalu menolongku dan hanya berharap sama Allah. Serta, sekarang jangan beli buku novel dulu yaa wahai dirikuuu~ beli yang manfaatnya ke masa depan :D

P.s: masih menunggu bukunya yang masih dalam perjalanan. Keep patient. :)

Senin, 10 Juli 2017

Different Position, Different Understanding (Part 2)

-Bagian Pertama-

Ada sedikit cerita pribadi.

Suatu ketika aku meminta bantuan kepada temanku. Awalnya temanku menyanggupinya. Namun kemudian akhirnya dia mengatakan kepadaku, bahwa dia tidak bisa membantu. Tidak hanya itu, dia menambahkan bahwa aku tidak mengerti posisinya, tidak mengerti keadaannya. Waktu itu aku juga ingin bicara balik bahwa dia juga tidak mengerti posisiku sampai aku minta bantuan kepadanya. Tapi mengatakan hal itu hanya akan menimbulkan perdebatan. Aku minta maaf kepadanya bahwa aku telah merepotkannya.
Tapi dipikiranku masih berputar-putar soal "mengerti posisi".

Pada waktu itu aku akui bahwa aku kesal. Kesal karena dia mengatakan aku tidak memikirkan posisinya. Kesal karena dia juga tidak memikirkan posisiku.
Tapi kemudian aku mencoba untuk tenang.
Tenang.
Berpikir.
Ya.
Aku memang tidak mengerti bagaimana rasanya berada di posisimu karena aku memang tidak berada di posisimu.
Pun sebaliknya, kau juga tidak mengerti aku karena kau juga tidak berada dalam posisiku saat itu.

Aku salah. Aku salah telah kesal.
Kalau dipikir ulang, benar waktu itu aku egois. Meminta bantuan tanpa memikirkan keadaannya. Aku tidak pernah tahu bagaimana perasaanmu sampai kau mengatakannya.

Bagi beberapa orang mungkin itu termasuk bantuan sepele waktu itu. Tapi kejadian itu membuatku berpikir panjang.
Jangan marah. Janganlah kesal dulu.
Tetaplah tenang.

Bukankah banyak hal terjadi?
Ketika seseorang melakukan A, B, C, D (cth menolak membantu, marah-marah ke kita tanpa sebab) kemudian kita marah-marah, kesal, heran, bingung, kemudian malah suudzon dsbg. Hey! Tahan!
Bukankah kita tidak berada di posisinya?
Kita tidak pernah tahu bagaimana perasaannya saat itu, bagaimana keadaannya saat itu. Kita tidak tahu.
Dia melakukan A, B, C, D itu bisa jadi karena banyak faktor atau berbagai dorongan hingga dia melakukan A, B, C, D.
Beri dia waktu untuk tenang. Dan kita juga harus tenang. Susah memang mengendalikan emosi. It's difficult but lets try to control emotion. 

Jumat, 07 Juli 2017

Different Position, Different Understanding (part 1)

Bagi siapapun yang membaca tulisan ini, bacalah dalam keadaan tenang. Karena perbedaan pembacaan dalam berbeda kondisi bisa menimbulkan makna yang berbeda. Tulisan ini tidak ditulis dalam keadaan emosi ataupun marah. Tidak bermaksud menyinggung siapapun juga. Hanya sekedar pemikiranku, serta sebagai pengingat untuk diriku sendiri.

Different position. Perbedaan posisi. Yang ku maksud disini bukan perbedaan posisi dalam jabatan. Bukan.
Tapi posisi dalam hidup.
Mungkin kalimatku dibawah ini akan membuat sedikit paham(untukku jk aku sendiri lupa).

-Oranglain (mungkin) tidak mengerti karena mereka tidak dalam posisi kita.
Dan kita (mungkin) tidak mengerti mereka karena kita juga tidak berada di posisi mereka. -

Pernahkah kalian melakukan suatu hal, ataupun mengalami suatu kejadian, namun orang berpikir lain dari apa yang kita pikirkan dan rasakan?
Itu benar, tidak penting apa yang oranglain pikirkan. Tapi tulisan ini tidak menuju kearah sana.

Tapi dari sisi yang lain. Sisi sebaliknya.
"Dan kita (mungkin) tidak mengerti mereka karena kita juga tidak berada di posisi mereka."
Yaitu kita. Kita yang sering menjudge oranglain tanpa memikirkan dari berbagai sisi, bisa jadi orang berperilaku seperti itu ataupun melakukan suatu hal karena faktor/ dorongan lain.
Maka tulisan ini dibuat untuk sisi pikiran kita. Sisi pengendalian pikiran kita untuk tetap positive thinking.
Kita.

Tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian karena panjang.

Untuk diriku ketika aku lupa, bersabarlah dan tetaplah tenang, bukalah catatan ini, agar bisa memikirkan dari berbagai sisi. Bukan untuk menambah pikiran, tapi untuk melihat sisi yang berbeda. Sisi yang menenangkan pikiran, untuk introspeksi diri, untuk menghibur diri atau pengingat.

Jika mungkin bagi oranglain ini hanya menambah pikirannya, biarlah. Catatan ini tidak dirancang untuk menyenangkan semua orang, atau tidak memberi solusi kepada semua orang. 

Jumat, 28 Oktober 2016

Kesempatan yang Diberikan Tuhan

Di senja hari ini, aku bertemu dengan seseorang, dan dia mengatakan, "kenapa dulu kamu tidak ambil A, harusnya kamu ambil A, kalau dulu ambil A kan, besok bisa jadi ini dan itu, bisa dapat ini dan itu"... Simply, hatiku tidak ada sedikitpun kecondongan ke arah sana. Ataukah mungkin bisa jadi aku sedang tidak berpikir jernih dalam membuat keputusan saat itu, sehingga aku abaikan? Bisa jadi. Tapi sampai saat ini, sampai waktu telah berlalu hingga 5 tahun, tidak ada penyesalan sedikitpun dalam hatiku. Keputusanku tetap pada pilihanku. Sebuah pilihan yang mungkin orang memang tidak paham kenapa aku memutuskan memilihnya. Dan sekali lagi aku tidak menyesalinya.
Hal yang ku sesali adalah, ketika sudah diberikan suatu kesempatan, dan diri ini tahu dan sadar bahwa itu adalah sebuah kesempatan baik, tapi diri ini terlalu takut untuk mencobanya.
Aku tahu kau tidak paham kenapa aku memutuskan hal tersebut pada waktu itu kawan. Tapi, ketahuilah, ketika aku mengambil sebuah pilihanku sendiri, aku justru juga merasa bahwa aku mendapatkan kesempatan-kesempatan baik lainnya. Itulah kenapa aku tidak menyesalinya.
Jika aku mengambil jalan yang menurutmu mungkin tidaklah tepat, maka harusnya pun Tuhan akan segera mengembalikanku ke arah sana. Tapi aku merasa tidak demikian. Tuhan justru menunjukkanku sebuah hal baik ke arah pilihanku.
Kita memang tidak tahu, pilihan manakah yang terbaik. Tapi, bukankah mungkin lebih baik, kita ambil sebuah pilihan, dan jadikan pilihan itu adalah pilihan terbaik kita :) ?
Kenapa aku tidak menjelaskan langsung kepadamu panjang lebar? Karena aku sudah pernah menjelaskan alasan paling sederhana milikku kepadamu secara langsung, dan kau bahkan tidak mau memahaminya. Selain itu, aku juga tidak ingin berdebat denganmu. :)

Sabtu, 02 April 2016

Pembuka



Sungguh betapa sulit menguak isi hati. Seperti menimba air di sumur yang dalam, harus penuh kesabaran dan rela dengan seberapa yang didapat. Padahal, tidak ada satu sumur pun dapat ditimba air kata-katanya yang pantas untuk Sang Kekasih. Sumur begitu pemalu, begitu menutup diri. Ia lebih suka merahasiakan dirinya daripada memperlihatkan. Memang seperti itulah adatnya.
Sementara itu, air tak mungkin sama saat berada dalam wujud awan dengan saat berada di dalam lubuk hati sumur. Setiap air akan berasa seperti tanah tempat sumur menyimpannya.
Sama persis keadaannya dengan hatimu. Tak mungkin hatimu mampu menuturkan Sang Kekasih dengan semestinya. Dan hal ini sudah sejak awal engkau ketahui.
Tentu saja, engkau tidak tahu bagaimana akan bertutur kata tentang wanita cantik itu, tentang Sang Kekasih, tentang seseorang yang bernama Maryam. Dan dia adalah Maryam milikmu. Bukan Maryam yang turun dari langit...
Namun, engkau dapat menerka-nerka sosok Maryam dengan mengusapkan tanganmu pada hamparan jalan yang sepanjang abad dilewati penuh dengan linangan air mata, dengan meraba pada hamparan bebatuan besar dan kecil yang menutupinya, dengan menyapu debu-debu jalanan yang meninggalkan jejak tentang dirinya.
Kemudian, engkau melewati jalan yang penuh membawa kenangan itu dengan ribuan kali pertobatan. Oh tidak, tidak mungkin engkau akan melewatinya...
Tidak mungkin engkau akan melewatinya...
Tidak mungkin kekuatanmu cukup untuk melakukannya...
Cakrawala pengetahuan tentang  "hakikat sang kekasih" hanyalah yang berharga bagimu, meski tidak mungkin tergapai sebagaimana tingginya langit, meski begitu membuai bagaikan dimabuk cinta yang tidak diketahui. Tidak pernah pula terukur ambang batasnya.
Jika semua tentang dirinya menjadikan rasa ingin tahu yang begitu mengguncang, seluruh yang bercerita tentang dirinya telah membuat jari-jemari tanganmu gemetar. Jangankan sebuah hakikat, cerita penuh kebohongan dan gosip yang paling tidak mungkin sekalipun telah memberimu kekuatan untuk selalu mengejarnya.
Dan aku pun berlari.
Aku kumpulkan.
Aku perhatikan.
Dan aku pun menjadi urung kemudian.
Sampai aku bangkit, untuk mengumpulkan kembali.
Aku kumpulkan.
Dan aku kumpulkan.
Aku siapkan.
Namun, kemudian terlihat bahwa setiap pigura yang membingkai kenangan tentang dirinya terasa seperti sebuah ketidakadilan,aib, dan rasa tidak tahu diri.
Aku pun terdiam.
Hingga aku kembali tersentak dengan perasaan tidak sabar. Tidak sabar untuk segera menggoreskan tinta tentang sesosok wanita cantik itu.
Hingga remuk diriku, tercerai berai.
Kerdil diriku.
Kerdil hingga mendekati lenyap akibat luapan cinta. Inilah yang untuk sekali lagi aku ketahui. Sampai ia pun mengajariku bertatakrama seperti seorang malang yang ditempa untuk pengabdian. Mereka adalah  orang-orang sebelum kami. Yang bertanya kepada Syah, "Apa jadi seorang yang mencintaimu?" Mereka itu para pembantu dan budak Maryam yang menuliskan namanya pada bebatuan pegunungan demi mendapati sesosok dirinya pada setiap apa saja yang dilihatnya. Sementara itu, sebagian yang lain melukiskan sosok dirinya agar tidak pernah lupa dan meninggalkanya. Yang lain lagi mencoba melupakan guncangan cintanya dengan menuliskannya ke dalam bait-bait puisi seperti orang yang minum sampai mabuk tanpa bisa berbuat apa-apa.
Setiap disebut nama "Maryam", semua orang yang mencintainya, kita menyebutnya para penggilanya, tetap meniti jalan sekehendak mereka sendiri.
Sementara itu, diriku adalah orang baru.
Karena itu, aku lewati jalan mereka semua satu per satu tanpa pernah mengenal jemu. Aku kunjungi setiap mimbar kajian kitab-kitab lama, cerita-cerita terdahulu, kisah-kisah penuh hikmah, Perjanjian Lama dan Baru, Mazmur, Alquran Al-Karim, kasidah gubahan Daud as, Suhuf Idris as yang hilang berserakan, kitab-kitab tabir mimpi, zodiak, peta bintang, rintihan-rintihan para unta yang dengan sabar menarik pasungnya, kisah yang terucap dari penuturan buah zaitun tentang dirinya, cerita ikona, lukisan-lukisan, serta goresan-goresan karya kaligrafi. Aku dengarkan semuanya tanpa sedikit pun menyela untuk berbicara.
Kesemuanya adalah pengembara, ibarat dua mata buta yang jatuh ke dalam cinta buta.
Sampai selang beberapa lama aku dapati diriku seolah bersimpuh di depan tungki perapian mendengarkan penuturan cerita sepasang suami istri.
Siapakah diriku selain sebagai seorang tukang gosip?
Pudar wajahku dalam bayangan cermin di pasar perhiasan saat mencari seorang Maryam...
Ya... Cinta ini telah membuatku tidak tahu malu.
Hingga selang beberapa lama kemudian, saat aku lantunkan salawat ke haribaan baginda Muhammad SAW, kudapati diriku sadarkan diri. Sungguh ia telah menjadi puncak dan juga kain kafan bagiku. Telah menjadi satu kesatuan dalam kelahiran dan juga kematian dalam pengembaraanku. Tak lebih dari pekerjaan "merangkai" mengenang nama baginda Muhammad yang mulia.
Tak lagi diriku memiliki cara yang lain sehingga aku bergenggam erat kepadanya:
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala ali Sayyidina Muhammad...
 
Sibel Eraslan - Maryam

Note : is that made by me? No. Is it Romance? No, I think that it isnt romance that people always talk about. Did I troll you, reader? Maybe hahaha.  That made by Sibel Eraslan in the novel Maryam. Have you read that? Why I post this? Well.. Saat sedang membuka catatan lama yang berkerak di laptop, aku menemukan tantangan lama yang belum ku penuhi sampai saat ini. Sudah hampir satu tahun. Tantangan 180 hari. How could I forgot that? Hahaha. Sehabis membaca Maryam, pembuka surah Maryam, ku putuskan untuk ku post, sebagai pembuka, karena dalam novelnya tulisan tersebut juga sebagai pembuka. Maaf ya Bang, aku lupa tantangannya. Hahaha ...  Amunisi yang abang katakan satu tahun lalu aku sering kehilangan dan sering tidak menemukannya. Lalu sekarang bagaimana aku akan menemukannya? Target 1 book 1 week. Semoga bisa menjadi salah satu amunisinya. Oya, satu target ketika rahasia mim tersingkap belum ditemukan. Hmm adakah yang punya?

Jumat, 08 Januari 2016

Parents is a Gift

Kita tidak bisa meminta dilahirkan dari keluarga yang mana. Tidak bisa meminta lahir dari ibu ayah yang mana.
Karena itu merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.
Itu hadiah untuk kita.
Mereka selalu menyayangiku dan memperhatikanku.
Mungkin cara mereka membesarkanku tidak sebaik cara seperti orangtua lain.
Tapi Tuhan Yang Maha Mengetahui lebih mengetahui, mungkin ini adalah tempat terbaikku untuk tumbuh dan berkembang. Belajar bersabar dan belajar lebih dewasa.
Thanks God, Mom and Dad :)
FAMILY= Father and Mother I Love You

Kamis, 17 Desember 2015

Meminta Izin Tuhan


Kembali aku disadarkan. Dulu memang pernah mempunyai kesadaran bahwa apapun keputusan yang akan diambil, letakkan nama Tuhan disana.
Tapi sepertinya kesadaran itu tenggelam.
Dan inilah aku kembali diingatkan. Bahwa aku telah mengambil sebuah keputusan tapi lupa untuk meletakkan nama Tuhan disana. Bahwa seharusnya aku meminta izin Tuhan terlebih dahulu, meminta ridho. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah kita mengambil keputusan itu.
Selain itu, pelajaran lain yang bisa ku ambil adalah jangan pernah meremehkan suatu urusan. Hahaha apapun itu. Jangan menggampangkan.
Bisa jadi yang mungkin kita anggap bisa diawal, ternyata pada akhirnya kenyataannya tidak seperti itu.
Mungkin ini adalah cara Tuhan untuk mengingatkan ku saat ini.
Terimakasih kepada teman yang sudah mengingatkanku juga bahwa aku juga harus selalu meminta izin dan ridho atas keputusan yang akan ku ambil.
Dan jangan gegabah untuk mengambil keputusan.

Untuk apa tulisan ini dimuat? Simply, untuk mengingatkan diri saya, yang sering lupa juga. Hahaha :D

Sabtu, 06 Desember 2014

Menulislah, Karena Itu Menyenangkan


Sabtu itu saya menghadiri seminar tentang kepenulisan yang dihadiri oleh pembicara Darwis Tere Liye. Saya mengikuti ini berharap agar saya bisa mengetahui bagaimana cara menulis dengan baik, dan bisa menumbuhkan motivasi untuk menulis. Diluar dugaan memang. Pembicara yang satu ini tidak memberitahukan secara gamblang bagaimana menulis dengan baik dan bagaimana agar membuat tulisan kita menarik. Sungguh, gaya bahasa dan penyampaiannya yang unik ini menurut saya adalah sesuatu yang menarik perhatian. Beliau tidak mengatakannya secara langsung bagaimananya, tetapi beliau selalu menjelaskannya dengan cerita-cerita menurut sudut pandangnya. Beberapa kalimat yang terlontar terkadang langsung menikam pemahaman saya tentang kepenulisan.

Hmm, rasa-rasanya saya ingin menulis hasil apa yang saya dengarkan dari seminar tersebut disini. Tapi, apa boleh ya? Apa nanti ada orang lain setelah membaca post ini, lalu kemudian berpikir tidak perlu menghadiri acara seminarnya lagi? Ahaha pikiran ini terlalu berlebihan. (Lagipula siapa juga yang mau membaca post ini -_- ).

Kalimat pembuka yang langsung menancap di pikiran saya adalah "Menulis itu hanya perlu ditumbuhkan, bukan untuk dipelajari"(Semoga saya tidak salah menulis kalimat ini). Secara singkatnya, kegiatan tulis-menulis hanya perlu dilakukan secara terus menerus(atau dengan kata lain ditumbuhkan) bukan kita bertanya-tanya bagaimana mempelajari agar menulis dengan baik(ini hanyalah pemahaman saya, terserah anda mengerti ataupun tidak, tapi saya berharap anda juga paham).

Pada seminar ini kita diajukan 3 pertanyaan. Pertanyaan yang akan menuntun kita untuk bisa menulis. Pertanyaan pertama adalah "Kenapa aku harus menulis?". Kira-kira alasan apa yang dibutuhkan untuk menulis itu sendiri ya? Hmm~ Pernahkan kalian terbesit alasan menulis itu bermacam-macam? Ada lho, alasan menulis itu untuk menerbitkan bukunya, ingin populer atau terkenal, ingin dianggap keren dan hebat dan lain-lainnya. Kira-kira teman-teman tahu, apa yang dikatakan beliau? Alasan kenapa kita harus menulis? Beliau menjawab bahwa alasan menulis itu untuk menyebarkan buah kebaikan. Itulah menulis. Itu benar, menurut saya dengan menyebarkan buah kebaikan ini, tidakkah tulisan kita bisa bermanfaat untuk orang yang sudah membacanya, misalkan saja dia bisa termotivasi, terinspirasi, dan melakukan kegiatan yang bermanfaat dan berguna untuk oranglain.

Lalu setelah kita mempunyai alasan menulis itu, pasti terbesit dipikiran kita, "Apa yang harus saya tulis?". Benar, kita pasti bingung, tema, topik apa yang harus kita tulis? Kita juga belum bisa menuliskan hal-hal berat macam perekonomian dunia, politik, hukum dan sebagainya. Lagipula kita ini juga siapa? Aku hanyalah pelajar, aku hanyalah mahasiswa, aku hanyalah ibu rumah tangga,dsb. Lalu bagaimana solusinya? Tenang teman, tenang. Sekarang berpikirlah, kita setiap hari selalu melakukan aktivitas yang bermacam-macam bukan? Lalu kenapa kita tidak menuliskan aktivitas yang kita kerjakan? Lalu, apa aktivitas yang cocok yang bisa kita tulis? Nah, itu tergantung kalian sendiri. Salah satu yang beliau contohkan adalah A, seorang ibu rumah tangga. Apa yang bisa ditulis A, si ibu rumah tangga ini? Pekerjaannya hanyalah memasak, mencuci, mengurus anak, mengurus suami, bersih-bersih, apa yang special? Eitss~ tunggu dulu.. Bersabarlah. Kira-kira pekerjaan yang mana yang paling disukai A sebagai ibu rumah tangga? Hoo~ ternyata memasak. Lalu kenapa si A ini tidak mencoba menuliskan aktivitasnya tentang memasak ? Menulis setiap hari tentang resep masakan yang dia buat. Bukankah itu juga merupakan menulis hal yang disenanginya? Right?
Pilihlah aktivitas apa yang menurut kalian menyenangkan, kalian lakukan dengan senang hati. Kalian juga bisa menulisnya dalam bentuk seperti catatan pendek, essay atau bahkan artikel. Tidak perlu panjang-panjang, karena dengan menulis sedikit demi sedikit, tulisan kalian akan panjang dengan sendirinya. Cobalah~


Okey, kita sudah tahu alasan menulis, check dan bahkan kita sudah tahu apa yang akan kita tulis, check, lalu apa selanjutnya yang kita butuhkan? Iyap! Bagaimana menulis dengan baik dan cara membuat tulisan kita itu menjadi menarik? Okey.. Menurut beliau, atau kita sebut Bang Darwis, membeberkan ada empat poin disini.
a.      Topik tulisan bisa apa saja, tapi penulis yang baik selalu punya sudut pandang yang spesial. Kita garis bawahi sudut pandang yang spesial. Semua penulis pasti mempunyai gaya bahasa tersendiri dalam menulis, atau mungkin bisa dikatakan mempunyai sudut pandang tersendiri dalam menyampaikan ide-idenya dan karyanya. Lihatlah karya J.K Rowling, tentu berbeda dengan karya J. R. R. Tolkien, karena mereka menggunakan sudut pandangnya masing-masing. So, Kita bisa menghasilkan karya tulisan dengan sudut pandang spesial kita sendiri bukan? Jangan berpikir untuk menulis yang megah, sangat menarik, hebat, dll, menulislah dengan sederhana. Sederhana tapi bermanfaat. Penulis yang baik bisa menjadikan apapun sebagai topiknya.
b.      Penulis yang baik selalu membutuhkan amunisi. Seperti kita akan mengisi gelas yang kosong dengan sebuah botol berisi air. Bagaimana jadinya kalau botol ini kosong? Apakah kita bisa mengisi gelas yang kosong itu dengan penuh? Tidak bukan? Sama persis dengan menulis. Jika gelas itu membutuhkan air maka kita juga perlu sesuatu untuk bisa tetap menulis. Kita memerlukan amunisi. Amunisi disini bisa apa saja. Bisa didapat dari membaca, mengamati keadaan sekitar, mengobservasi, dan dengan melakukan sebuah perjalanan misalnya. Penulis yang baik selalu banyak membaca. Untuk itu, jika kalian malas membaca, maka mulailah membaca sekarang. Bacalah sebanyak-banyaknya, maka kita akan semakin tahu dan paham.
c.       Ala karena terbiasa. Menulislah sebagai kebiasaanmu. Maka kau akan mendapatkan gaya bahasamu karena kau terbiasa dalam menulis. Pun begitu pula kita sering menulis, maka kita akan menyadari bagaimana menggunaan sebuah kalimat yang efektif. Tentu itu lahir dari kebiasaan. Oya, ada saran lain dari Bang Tere, jika kita membuat sebuah cerita fiksi, dan teman-teman bingung bagaimana harus menutupnya, teman-teman bebas bagaimana menutupnya karena itu karya kalian sendiri, tak perlu diperumit. Kalian dapat membuat endingnya open mind, biarkan para pembaca yang mengimajinasikan bagaimana endingnya, hehehe~
d.      Mood jelek adalah lumrah, selalu mood jelek kalian harus memikirkan sesuatu. Sering saat kita menulis kita membutuhkan mood yang bagus agar kita bisa tetap semangat menulis. Dan sebaliknya, sering pula mood jelek mengakibatkan kita malas dan tidak ada semangat untuk mengerjakannya. Nah, lalu bagaimana kita bisa tetap semangat menulis tetapi dalam kondisi mood yang buruk? Hmm~ saya tidak tahu solusinya, tapi pada saat seminar itu saya mendapatkan jawabannya(entah anda bisa menyebut ini sebagai solusi atau bukan, itu terserah anda lagi). Kedisiplinan. Itu jawabannya. Kita membutuhkan kedisiplinan untuk terus menulis. Misalkan saja, kita menetapkan kapan kita akan menulis, seperti habis shubuh, atau sebelum tidur. Jadikanlah itu kebiasaan kalian. Dengan kedislipinan ini, apapun mood kalian, kalian akan "dipaksa" untuk tetap menulis. Hmm memang agak sedikit mengerikan, tapi mau bagaimana lagi? Menulis itu seperti naik sepeda. Perlahan-lahan, terus menerus (disiplin), jatuh bangun,dan nikmatilah proses itu.

Itulah poin-poin penting yang perlu kita perhatikan dalam menulis. Lalu bagaimana dengan jawaban yang tepat bagaimana menulis dengan baik dan menarik? Haha kalian tahu, Bang Darwis jawab apa? Beliau mengatakan "Tulis-tulis saja". Hmm, apa kalian bingung? Hoho~ sepertinya penjelasan saya memang kurang ya? Ya, maafkan saya, karena saya juga penulis pemula disini. Hehe~ Nah mungkin karena keterbatasan saya dalam menyampaikan memang kurang, saya sarankan anda menghadiri secara langsung saja seminar kepenulisan dimana pembicaranya adalah Bang Darwis Tere Liye itu sendiri. Hehe~

Oya, mungkin sebagai catatan, bagaimana kita tahu bahwa apa yang kita tulis itu memang relevan? Nah, jangan terlalu berpikir rumit, pastikan saja tulisan kita sendiri itu relevan dengan kita sendiri dan bermanfaat untuk diri sendiri terlebih dahulu, juga sebagai sesuatu yang menyenangkan buat kita sendiri. Maka, temukanlah motivasi terbaik untuk melakukan sesuatu itu, temukanlah motivasi terbaik kalian untuk menulis.

Menulis itu seperti menanam, maka waktu menanam yang terbaik adalah HARI INI!


*Catatan: tulisan ini saya post-kan pada tanggal 9 Desember 2013, saya re-post kembali dari blog saya yang lain. ( amienoer.wordpress.com)